Stabilisasi & Optimasi Cold Storage Farmasi 2–8°C

Fasilitas Distribusi Obat – Jakarta Timur


1️⃣ Latar Belakang Fasilitas

Sebuah fasilitas distribusi farmasi dengan sistem penyimpanan suhu terkendali 2–8°C mengalami fluktuasi temperatur yang berulang, terutama pada jam operasional aktif dan setelah siklus defrost.

Spesifikasi Ruang:

  • Volume ruang: ± 240 m³
  • Setpoint suhu: 5°C
  • Rentang operasional yang dipersyaratkan: 2–8°C
  • Sistem refrigerasi: Direct Expansion (DX)
  • 2 unit condensing unit (1 aktif, 1 standby)
  • 2 evaporator ceiling-mounted dengan forced air circulation
  • Kontrol digital thermostat + external data logger terkalibrasi
  • Pintu manual single leaf tanpa air curtain

Karena sifat produk farmasi, kestabilan suhu bukan hanya aspek teknis, tetapi bagian dari kepatuhan regulatif (CDOB dan sistem jaminan mutu internal).


2️⃣ Permasalahan Awal

Hasil audit internal menunjukkan:

  • Deviasi suhu >8°C terjadi 3–4 kali per minggu
  • Durasi deviasi 12–18 menit
  • Suhu minimum pernah tercatat 1.9°C
  • Recovery time setelah defrost mencapai 35–40 menit

Walaupun rata-rata suhu harian masih dalam rentang 2–8°C, pola fluktuasi menunjukkan ketidakstabilan sistem.


3️⃣ Investigasi Teknis

Evaluasi dilakukan dalam 3 tahap:

A. Evaluasi Distribusi Udara

Ditemukan:

  • Aliran udara tidak merata pada zona sudut belakang ruang
  • Dead zone terbentuk akibat konfigurasi rak terlalu rapat
  • Air return sebagian terhalang oleh susunan pallet

Hasilnya, temperatur lokal di beberapa titik lebih tinggi 1.5–2°C dibanding area tengah ruang.


B. Analisa Siklus Defrost

Parameter awal:

  • Frekuensi defrost: 6 kali per hari
  • Durasi defrost: 25–30 menit
  • Metode: Electric defrost

Temuan:

  • Defrost berjalan terlalu lama
  • Tidak ada adaptive control berbasis frost thickness
  • Sistem recovery tidak memiliki kontrol bertahap (gradual loading)

Akibatnya:

  • Suhu ruang meningkat hingga 8.5–8.7°C
  • Kompresor bekerja pada beban maksimum saat recovery

C. Evaluasi Penempatan Sensor

Sensor kontrol utama terpasang dekat discharge evaporator.

Dampaknya:

  • Sensor membaca suhu lebih rendah dari suhu aktual ruangan
  • Sistem menghentikan pendinginan sebelum ruang benar-benar stabil
  • Terjadi overshoot setelah siklus berhenti

D. Evaluasi Beban Termal

Beberapa faktor beban tambahan ditemukan:

  • Frekuensi buka-tutup pintu tinggi (jam distribusi pagi & siang)
  • Tidak ada strip curtain
  • Produk masuk dengan suhu mendekati batas atas (7–8°C)

Beban infiltrasi udara luar cukup signifikan.


4️⃣ Tindakan Korektif yang Dilakukan

Pendekatan dilakukan tanpa penggantian unit utama.

1️⃣ Optimasi Defrost

  • Pengurangan durasi menjadi 12–15 menit
  • Penyesuaian frekuensi berdasarkan kebutuhan aktual
  • Pengaturan ulang suhu cut-in recovery

2️⃣ Rebalancing Airflow

  • Penyesuaian arah hembusan evaporator
  • Re-layout sebagian rak untuk menghindari dead zone
  • Verifikasi return airflow

3️⃣ Relokasi Sensor

  • Sensor utama dipindahkan ke titik representatif
  • Verifikasi silang dengan data logger kalibrasi

4️⃣ Pengendalian Beban Infiltrasi

  • Pemasangan strip curtain
  • Edukasi SOP buka-tutup pintu
  • Evaluasi waktu staging produk

5️⃣ Hasil Setelah Optimasi (Monitoring 14 Hari)

Setelah stabilisasi:

  • Tidak ditemukan deviasi >8°C
  • Fluktuasi suhu harian turun signifikan
  • Recovery time berkurang menjadi ±14 menit
  • Suhu minimum stabil di atas 3°C
  • Distribusi suhu antar titik lebih merata

Rentang aktual ruang menjadi:

3.8°C – 6.4°C (stabil dan konsisten)


6️⃣ Dampak terhadap Compliance & Risiko

✔ Sistem memenuhi rentang suhu 2–8°C secara stabil
✔ Mengurangi risiko kerusakan produk sensitif
✔ Meningkatkan kesiapan audit eksternal
✔ Dokumentasi data logger lebih konsisten
✔ Mengurangi beban kerja kompresor saat recovery

Tidak ditemukan kebutuhan upgrade kapasitas.


7️⃣ Kesimpulan Engineering

Permasalahan utama bukan kekurangan kapasitas refrigerasi, melainkan:

  • Strategi defrost yang tidak optimal
  • Distribusi udara yang tidak seimbang
  • Penempatan sensor yang tidak representatif
  • Beban infiltrasi yang tidak dikendalikan

Pendekatan berbasis evaluasi parameter operasional dan kontrol distribusi mampu meningkatkan stabilitas sistem tanpa investasi besar.

Dalam fasilitas farmasi, stabilitas lebih penting daripada sekadar suhu tercapai. Sistem harus mampu mempertahankan suhu dalam batas toleransi secara konsisten dan terdokumentasi.


error:
Scroll to Top